
DENPASAR, Teatersastrawelang.com – Pameran seni rupa kontemporer yang provokatif, “Revolusi Setangkai Jerami,” karya seniman Andi RHARHARHA dan Dwi S. Wibowo, kini memasuki pekan kedua penyelenggaraannya di TAT Art Space, The Ambengan Tenten. Publik diundang untuk mengunjungi dan merasakan langsung ketajaman kritik sosial yang ditawarkan pameran ini, yang hanya tersisa hingga 6 Desember 2025.
Mengambil inspirasi dari filosofi Masanobu Fukuoka mengenai pertanian alami—sebuah gerakan yang menekankan harmonisasi manusia dengan tanah—pameran ini berfungsi sebagai cermin kritis atas realitas agraria di Indonesia saat ini. Tanah, yang secara historis diwarisi sebagai identitas, budaya, dan sumber pengetahuan, kini dikuasai oleh ambisi pembangunan yang mengubahnya menjadi objek modal belaka.
“Sejak masa kolonial, pandangan bahwa tanah adalah penghasil kapital terus berlanjut. Kedaulatan atas tanah tak pernah sepenuhnya kita miliki. Di Bali, hilangnya kedaulatan ekonomi masyarakat secara langsung berujung pada hilangnya kepemilikan tanah, mencabut identitas petani sebagai manusia,” tulis seniman dalam keterangan pameran.
Panggilan Kritis Atas Krisis Agraris
“Revolusi Setangkai Jerami” lahir dari kegelisahan seniman terhadap situasi sosial-politik, khususnya ketidakberpihakan negara terhadap keberlanjutan hidup petani dan lingkungan. Isu utama yang diangkat meliputi alih fungsi lahan pertanian produktif yang didorong ketidakseimbangan ekonomi, membuat profesi petani ditinggalkan oleh generasi muda.
Pameran ini secara lugas menyoroti ketidaksesuaian prinsip dalam program ketahanan pangan nasional, seperti Food Estate. Para seniman mengkritik keras proyek yang mengalihfungsikan kawasan hutan, melanggar prinsip ekologis dan memicu konflik horizontal dengan masyarakat adat. Lebih lanjut, keterlibatan militer dalam proyek-proyek Food Estate dan pencetakan sawah dipertanyakan, karena dianggap menyalahi tugas pokok Angkatan Bersenjata dan berpotensi memicu kekerasan terhadap warga.
Karya-Karya Seniman yang Menggugah Nurani
Andi RHARHARHA, seniman multidisiplin yang karyanya selalu terikat dengan aktivisme, menyajikan tiga karya kuat:
• “Monument: The Last Farmers in Bali” menampilkan potret petani generasi terakhir di Bali Selatan di atas karung jerami. Karya fotografi ini menyoroti ironi ketimpangan ekonomi, di mana sisa sawah petani menjadi pemandangan bagi vila-vila mewah, dan regenerasi petani telah terhenti.
• “Bali Fiksi”, melalui instalasi video dan performance art, menggambarkan lanskap Canggu yang sudah berubah drastis, dari lumbung padi menjadi dunia yang sureal di bawah dominasi investasi komersial, mempertanyakan fungsi identitas budaya Bali di hadapan modal besar.
• “Not My Hero” merupakan instalasi yang secara terang-terangan menolak glorifikasi tokoh Orde Baru. RHARHARHA mengubur pesan ‘not my hero’ di balik sekam, mengajak pengunjung berpartisipasi dalam performance art menciptakan “kebisingan” dengan perabot bekas—simbol hak warga negara untuk bersuara kritis terhadap kekuasaan.
Dwi S. Wibowo, yang bertransisi dari kurator menjadi seniman, menghadirkan seri Food, Land and Memories dengan tiga karya yang menstimulasi dialog:
• “Vote for Your Future” mengajak pengunjung melakukan simulasi pemilihan, yang mana kali ini mereka memilih tanaman pangan ideal untuk ketahanan nasional—analogi dari minimnya pilihan politik masa Orde Baru. Karya ini menekankan pentingnya partisipasi rakyat dalam penentuan kebijakan vital.
• “Battle On The Ricefield” menjadi instalasi paling mencolok, menggunakan kotak amunisi bekas produksi PT Pindad yang dipadukan dengan lumpur, padi, dan genjer. Karya ini menyoroti ironi keterlibatan militer dalam pengelolaan lahan pertanian, yang berisiko menciptakan konflik alih-alih ketahanan pangan.
Pameran “Revolusi Setangkai Jerami” adalah undangan mendesak untuk merenungkan kembali: Jika lahan pertanian habis, dan kita tidak lagi berdaulat atas tanah, masihkah kita utuh sebagai bangsa? Para seniman berharap pameran ini memicu revolusi pemikiran dan tindakan pada tingkat individu.
Publik yang belum sempat hadir diimbau untuk segera menjadwalkan kunjungan sebelum pameran berakhir pada 6 Desember 2025.
Detail Pameran yang Sedang Berlangsung:
• Pameran: Revolusi Setangkai Jerami
• Seniman: Andi RHARHARHA & Dwi S. Wibowo
• Galeri: TAT Art Space, The Ambengan Tenten, Jalan Imam Bonjol gang Rahayu
• Durasi: Hingga Minggu, 6 Desember 2025


